K+
Halaman Hot News Internasional nasional Daerah Ekonomi Teknologi Sport Lifestyle Politik

HMI Unsil Gelar Kajian: Petakan Peluang dan Tantangan Gerakan Islam di Era Digital

PANCARNUSA.COM, TASIKMALAYA – Di tengah derasnya arus informasi dan polarisasi di media sosial, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Universitas Siliwangi menggelar kajian bertajuk “Studi Gerakan Islam sebagai Kerangka Analisis untuk Memetakan Peluang dan Tantangan Gerakan Islam di Indonesia.”

Kajian ini berlangsung pada 15 Agustus 2026 di Sekretariat HMI Komisariat Unsil. Kegiatan ini menjadi ruang intelektual bagi kader untuk memahami perkembangan gerakan Islam secara historis sekaligus merumuskan respons terhadap perubahan zaman.

Dalam pembukaan kajian, gerakan Islam dipahami sebagai aktivitas kolektif umat Islam yang berupaya menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Perjuangan tersebut tidak hanya berlangsung dalam ruang dakwah keagamaan, tetapi juga melalui pendidikan, sosial, ekonomi, budaya, dan politik.

Bedah Genealogi dan Tipologi Gerakan Islam

Peserta diajak menelusuri genealogi keragaman gerakan Islam. Perbedaan dalam sejarah Islam melahirkan berbagai corak pemikiran dan kelompok, seperti Khawarij, Syiah, dan Sunni. Pembahasan diarahkan agar kader memahami bahwa setiap gerakan memiliki latar belakang sosial, politik, dan historis yang memengaruhi arah perjuangannya.

Diskusi kemudian berlanjut pada tipologi gerakan Islam di Indonesia.

Pertama, gerakan sosial-keagamaan yang mengambil peran melalui pendidikan, dakwah, pelayanan sosial, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam konteks ini, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama (NU), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, dan Persatuan Islam (Persis) menjadi contoh organisasi yang memiliki corak dan medan perjuangan masing-masing.

Kedua, gerakan Islam ekonomi-politik. Salah satu contoh pentingnya adalah Sarekat Islam (SI), yang berakar dari Sarekat Dagang Islam dan berkembang menjadi gerakan yang mempertautkan kepentingan ekonomi, kesejahteraan umat, dan perjuangan politik.

Ketiga, gerakan Islam politik. Masyumi menjadi salah satu contoh penting dalam sejarah politik Islam Indonesia. Sementara pada era demokrasi kontemporer terdapat partai-partai yang memiliki basis atau orientasi politik Islam, seperti PKB dan PKS.

Keempat, dibahas pula pengalaman gerakan Islam yang mengambil bentuk perjuangan politik bersenjata, salah satunya Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang berkembang dalam konteks pergolakan politik pascakemerdekaan. Pembahasan DI/TII ditempatkan sebagai bagian dari sejarah untuk dipelajari, sekaligus untuk melihat bagaimana konteks politik dan pilihan strategi dapat memengaruhi arah suatu gerakan.

Islam Harus Jadi Nilai yang Hidup, Bukan Simbol

Mendekati akhir sesi diskusi, para peserta terlihat sangat aktif. Ketua Umum HMI Komisariat Universitas Siliwangi, Ripqi Mustofa, menekankan bahwa pemaknaan terhadap Islam tidak boleh berhenti pada simbol, identitas, maupun atribut keagamaan semata.

“Islam jangan hanya kita pahami sebagai simbol atau identitas. Lebih dari itu, Islam harus hadir sebagai nilai yang hidup dalam sikap dan tindakan kita. Ketika kita berbicara tentang gerakan Islam, maka yang harus kita hadirkan bukan hanya simbol keislaman, tetapi juga keberpihakan terhadap keadilan, kemanusiaan, ilmu pengetahuan, dan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat,” ujar Ripqi.

Tantangan Dakwah dan Bonus Demografi

Kajian ini menyoroti perubahan besar medan perjuangan gerakan Islam. Perkembangan teknologi telah menggeser sebagian aktivitas dakwah dari ruang konvensional menuju ruang digital seperti media sosial, podcast, dan berbagai platform lainnya.

Peserta menyimpulkan bahwa gerakan Islam perlu merespons perubahan tersebut dengan penguatan literasi digital. Diperlukan kader digital yang mampu memproduksi serta menyebarkan konten keislaman secara edukatif, kritis, dan bertanggung jawab agar tidak terjebak pada hoaks, provokasi, dan informasi keagamaan yang tidak berdasar.

Kajian ditutup dengan memetakan kondisi gerakan Islam saat ini. Salah satu peluang strategis adalah bonus demografi dan besarnya populasi generasi Muslim muda. Kondisi ini membuka ruang bagi gerakan Islam untuk melahirkan generasi intelektual dan pemimpin masa depan.

Namun, jumlah besar harus diimbangi kualitas. Diperlukan reformasi kaderisasi yang tidak hanya memperkuat kapasitas keislaman, tetapi juga intelektual, sosial, dan kepemimpinan.

Peluang lain ada pada perkembangan ekonomi dan pemberdayaan umat. Ekonomi syariah, UMKM, koperasi, kewirausahaan, dan industri halal dinilai bisa menjadi ruang perjuangan baru bagi gerakan Islam untuk membangun kemandirian dan kesejahteraan masyarakat.

Dari keseluruhan pembahasan, kajian menegaskan bahwa gerakan Islam tidak cukup hanya mempertahankan eksistensi, tetapi harus mampu membaca perubahan dan merumuskan respons yang relevan.

Dorong Lahirnya Kader Kritis dan Solutif

Melalui kajian ini, HMI Komisariat Universitas Siliwangi mendorong kader untuk tidak hanya memahami sejarah dan keragaman gerakan Islam, tetapi juga mampu berpikir kritis, membaca realitas, dan menghadirkan gagasan serta gerakan yang relevan bagi umat, masyarakat, dan bangsa.

“Digitalisasi merupakan peluang emas untuk memperluas dakwah. Tapi di sisi lain kita juga dihadapkan pada hoaks dan konten keagamaan yang tidak berdasar. Kami berharap dari kajian ini lahir kader-kader yang tidak gagap terhadap perubahan zaman. Kader yang bisa menjawab tantangan ekonomi, politik, dan digital hari ini,” tutup Ilham, Ketua Bidang Penelitian Pengembangan dan Pembinaan Anggota HMI Komisariat Unsil.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments