K+
Halaman Hot News Internasional nasional Daerah Ekonomi Teknologi Sport Lifestyle Politik

Membumikan Islam sebagai Rahmatan lil-‘Alamin: Ikhtiar Membangun Peradaban Berkeadaban

Oleh: Ridho Alamsyah, S.H., M.H.

PANCARNUSA.COM, JAKARTA – Ada satu pertanyaan sederhana yang menurut saya penting untuk terus kita renungkan: apa yang seharusnya dirasakan manusia dari kehadiran Islam?

Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi jawabannya membawa kita pada pemahaman yang cukup mendasar tentang keberislaman. Sebab Islam tidak hadir hanya untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga untuk membentuk cara manusia memperlakukan dirinya sendiri, sesamanya, dan alam tempat ia hidup.

Al-Qur’an menyebut Nabi Muhammad SAW sebagai rahmatan lil-‘alamin, rahmat bagi seluruh alam. (QS. Al-Anbiya: 107). Ayat ini semestinya tidak berhenti sebagai ungkapan yang sering kita dengar dalam ceramah. Ia mengandung pesan besar tentang bagaimana Islam seharusnya hadir dalam kehidupan.

Kalau Islam adalah rahmat, maka rahmat itu harus bisa dirasakan.

Orang yang sedang kesulitan ekonomi harus merasakan kepedulian Islam. Anak-anak yang tidak mampu mengakses pendidikan harus merasakan perhatian umat Islam. Masyarakat yang menghadapi ketidakadilan harus menemukan keberpihakan pada nilai keadilan. Bahkan alam yang semakin rusak juga harus merasakan bahwa manusia yang beragama memiliki tanggung jawab untuk menjaganya.

Di sinilah menurut saya makna berislam menjadi jauh lebih luas daripada sekadar identitas.

Islam yang Hidup dalam Kehidupan

Kita tentu membutuhkan kesalehan personal. Shalat, puasa, zakat, membaca Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya merupakan bagian penting dari kehidupan seorang Muslim.

Tetapi ada pertanyaan berikutnya: ke mana semua kesalehan itu bermuara?

Kesalehan yang baik semestinya membentuk akhlak. Akhlak kemudian tercermin dalam perilaku. Dan perilaku yang baik seharusnya memberikan manfaat kepada lingkungan sekitar.

Seseorang yang rajin beribadah, misalnya, tidak seharusnya kehilangan kepekaan terhadap penderitaan orang lain. Seseorang yang memahami agama seharusnya semakin menghargai ilmu. Mereka yang mendapatkan amanah kekuasaan seharusnya semakin memahami tanggung jawab.

Dengan demikian, keberagamaan tidak berhenti pada hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tercermin dalam hubungan manusia dengan manusia dan kehidupan di sekitarnya.

Islam harus hidup dalam tindakan, bukan hanya dalam ucapan.

Dari Kebodohan Menuju Kemajuan

Sejak awal, Islam memiliki hubungan yang sangat kuat dengan ilmu pengetahuan. Wahyu pertama dimulai dengan perintah Iqra’ bacalah.

Pesan ini sangat relevan dengan tantangan umat Islam hari ini.

Kita tidak mungkin membangun peradaban hanya dengan membicarakan kejayaan masa lalu. Kita perlu membangun tradisi ilmu yang hidup: membaca, meneliti, berdiskusi, berpikir kritis, menciptakan teknologi dan melahirkan gagasan baru.

Kemiskinan tidak cukup dijawab dengan ceramah tentang kesabaran. Ia membutuhkan pendidikan, lapangan pekerjaan, pemberdayaan ekonomi dan kebijakan yang tepat.

Ketertinggalan tidak cukup dijawab dengan nostalgia tentang masa ketika dunia Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan. Kita harus kembali bertanya: apa yang sedang kita ciptakan hari ini?

Sebab peradaban tidak dibangun dengan nostalgia. Peradaban dibangun oleh manusia yang mau belajar, bekerja, berpikir dan menciptakan sesuatu yang bermanfaat.

Rahmat dalam Ekonomi dan Kehidupan Sosial

Islam juga memiliki perhatian besar terhadap persoalan kesejahteraan. Zakat, infak, sedekah dan wakaf menunjukkan bahwa kekayaan tidak semata-mata mempunyai dimensi individual, tetapi juga tanggung jawab sosial.

Namun, semangat tersebut perlu kita kembangkan.

Membantu orang miskin memang penting, tetapi membuat seseorang mampu keluar dari kemiskinan jauh lebih mendasar. Karena itu, pemberdayaan ekonomi, pendidikan, penguatan UMKM, wakaf produktif dan kesempatan yang adil harus menjadi bagian dari ikhtiar menghadirkan kemaslahatan.

Begitu pula dalam kehidupan sosial. Islam tidak seharusnya membuat kita semakin jauh dari manusia lain hanya karena perbedaan latar belakang.

Indonesia adalah rumah bersama yang dibangun dari keberagaman. Dalam konteks ini, rahmatan lil-‘alamin dapat menjadi nilai penting untuk membangun kehidupan yang saling menghormati.

Kita boleh berbeda dalam keyakinan, pilihan dan latar belakang, tetapi perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan penghormatan terhadap martabat manusia.

Politik sebagai Amanah

Dalam kehidupan politik, saya melihat satu nilai Islam yang sangat penting untuk terus diingat: amanah.

Kekuasaan bukan sekadar posisi. Ia adalah tanggung jawab.

Karena itu, politik seharusnya tidak hanya berbicara mengenai siapa mendapatkan kekuasaan, tetapi juga untuk apa kekuasaan itu digunakan.

Kekuasaan yang berkeadaban harus menghasilkan kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, pelayanan publik yang baik, penegakan hukum, transparansi dan perlindungan terhadap mereka yang lemah.

Nilai-nilai Islam semestinya tidak hanya digunakan sebagai simbol dalam ruang politik. Lebih penting daripada itu, nilai Islam harus hadir sebagai etika yang mengendalikan bagaimana kekuasaan digunakan.

Rahmat yang Juga Menyentuh Alam

Ada satu dimensi yang sering luput ketika kita membicarakan rahmatan lil-‘alamin, yaitu hubungan manusia dengan alam.

Al-Qur’an mengingatkan manusia agar tidak membuat kerusakan di bumi (QS. Al-A’raf: 56). Manusia juga diberi amanah sebagai khalifah di bumi.

Artinya, keberagamaan juga memiliki konsekuensi ekologis.

Ketika hutan rusak, sungai tercemar, udara semakin buruk dan sumber daya alam dieksploitasi tanpa kendali, persoalannya bukan hanya tentang lingkungan. Ia juga menyangkut tanggung jawab manusia.

Kalau manusia benar-benar memahami dirinya sebagai khalifah, maka kekuasaan atas alam harus berjalan bersama tanggung jawab untuk merawatnya.

Menjadikan Islam sebagai Energi Peradaban

Pada akhirnya, tantangan umat Islam bukan hanya bagaimana mempertahankan identitas, tetapi bagaimana menjadikan nilai Islam relevan dengan persoalan zaman.

Islam harus mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan baru.

Bagaimana menghadapi kecerdasan buatan? Bagaimana mengatasi kemiskinan? Bagaimana membangun pendidikan berkualitas? Bagaimana menghadirkan ekonomi yang adil? Bagaimana menghadapi perubahan iklim? Bagaimana membangun politik yang berintegritas?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan agama yang tidak hanya memberikan jawaban normatif, tetapi juga umat yang memiliki ilmu dan kemampuan untuk menerjemahkan nilai agama ke dalam kehidupan nyata.

Di sinilah saya memahami rahmatan lil-‘alamin sebagai sebuah visi peradaban.

Islam memberikan nilai. Manusia mempunyai tanggung jawab untuk mewujudkannya.

Iman membentuk orientasi. Ilmu memberikan kemampuan. Akhlak menjadi pengendali. Dan kerja nyata mengubah semuanya menjadi kemaslahatan.

Karena itu, berislam tidak cukup hanya dengan bertanya, “Apa yang saya dapatkan dari Islam?”

Kita juga perlu bertanya:

“Apa yang dapat saya berikan kepada kehidupan karena saya berislam?”

Pertanyaan kedua inilah yang menurut saya penting bagi generasi Muslim hari ini.

Sebab Islam tidak hanya membutuhkan umat yang saleh secara personal, tetapi juga manusia yang mampu membangun ilmu, ekonomi, kebudayaan, teknologi, hukum dan institusi yang berkeadaban.

Pada akhirnya, Islam tidak cukup hanya menjadi sesuatu yang kita banggakan. Ia harus menjadi sesuatu yang kita kerjakan.

Tidak cukup hanya dibicarakan, Ia harus dihidupkan.

Tidak cukup hanya menjadi identitas, Ia harus menjadi akhlak.

Dan tidak cukup hanya mengenang kejayaan masa lalu, Kita harus berani membangun masa depan. Sebab ketika Islam benar-benar dihadirkan sebagai rahmat, maka keberislaman kita tidak hanya menjadi kebaikan bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi manfaat bagi manusia dan semesta.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments